Sabtu, 05 Mei 2012
Jumat, 27 April 2012
PANTAI NATSEPA
PANTAI NATSEPA
Pantai Natsepa
menjadi tujuan wisata favorit karena lokasinya yang tidak terlalu jauh
dari kota Ambon. Untuk menuju pantai ini tidaklah menyulitkan. Dengan
menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari kota Ambon menggunakan
transportasi darat, maka sampailah Anda di Pantai Natsepa. Jaraknya yang
dekat dengan pusat kota membuatnya menjadi lokasi favorit penduduk kota
Ambon, maupun sebagian besar wisatawan yang sedang mengunjungi kota
Ambon akan singgah ke pantai ini.
Biaya masuk pantai ini terbilang cukup murah, yaitu Rp 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp 1.500,- untuk anak-anak. Tidak mengherankan jika pada akhir pekan, terlebih pada musim liburan tiba, pantai ini dipenuhi para keluarga yang membawa anak-anak atau para muda-mudi yang berwisata.
Hamparan pasir putih membuat keindahan pantai ini semakin nyata. Pantai terlihat bersih dengan laut yang cukup tenang. Banyak pepohonan di sekitar pantai membuat pantai terasa rimbun. Para pengunjung dapat berteduh di sela-sela bermain di pantai. Hijaunya dedaunan dari pohon-pohon ini juga menciptakan pemandangan yang lebih indah karena perpaduan warna hijau, putih, dan biru yang serasi.
Pantai Natsepa cukup luas, bahkan jika sedang surut, membuat luas pantai bertambah. Para orang tua biasa mengajak anak-anak berjalan menyusuri pantai ini sambil sesekali mencelupkan kaki mereka di air. Orang tua lain terlihat senang bermain pasir, membangun istana pasir, atau menguburkan diri dalam pasir. Luasnya Pantai Natsepa juga menjadi tempat yang asyik bagi anak-anak untuk bermain sepakbola. Dengan hembusan angin dan pasir yang halus membuat anak-anak lupa waktu saat sedang bermain bola.
Laut dengan air yang tenang karena terhalang teluk, membuat pantai ini aman untuk berenang bagi para pengunjungnya. Sekadar berjalan ke arah laut sambil bermain air juga cukup aman dilakukan karena pantai ini tergolong landai sehingga tidak membahayakan. Anda dapat menyewa ban sebagai pelampung untuk mencoba berenang di pantai ini.
Jika Anda hanya ingin menikmati pemandangan atau jika Anda telah lelah bermain air atau di pantainya, Anda dapat duduk di bawah pohon untuk meluaskan pandangan Anda. Luasnya pantai yang berpasir putih lembut, birunya air laut yang tenang dan pegunungan hijau di seberang laut merupakan pemandangan yang sangat indah untuk dinikmati.
RUJAK NATSEPA
Sambil memandangi alam yang indah tersebut, jangan lewatkan untuk menikmati Rujak Natsepa yang terkenal itu. Banyak penjual rujak di pantai ini. Buah-buahan segar seperti mangga, jambu, nenas bercampur dengan gula merah dan kacang akan membuat para penikmatnya merasa segar setelah menikmati buah-buahan dari Rujak Natsepa. Rujak ini dimakan dengan tusuk sate sebagai penusuk buah dari rujak ini.
Selamat berwisata dan menikmati asam, manis, pedas rujak Pantai Natsepa di Ambon, Maluku.
Jika Anda sedang ke Maluku, dan mendarat di Bandar Udara Pattimura, Ambon,
sempatkan untuk berkunjung ke pantai indah ini. Pantai Natsepa
merupakan salah satu tempat wisata yang indah untuk dikunjungi di Ambon.
Selain itu, ada juga pantai lainnya seperti Pantai Liang, Pintu Kota,
dan ragam wisata laut, sejarah, dan wisata alam menarik lainnya.
Biaya masuk pantai ini terbilang cukup murah, yaitu Rp 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp 1.500,- untuk anak-anak. Tidak mengherankan jika pada akhir pekan, terlebih pada musim liburan tiba, pantai ini dipenuhi para keluarga yang membawa anak-anak atau para muda-mudi yang berwisata.
Hamparan pasir putih membuat keindahan pantai ini semakin nyata. Pantai terlihat bersih dengan laut yang cukup tenang. Banyak pepohonan di sekitar pantai membuat pantai terasa rimbun. Para pengunjung dapat berteduh di sela-sela bermain di pantai. Hijaunya dedaunan dari pohon-pohon ini juga menciptakan pemandangan yang lebih indah karena perpaduan warna hijau, putih, dan biru yang serasi.
Pantai Natsepa cukup luas, bahkan jika sedang surut, membuat luas pantai bertambah. Para orang tua biasa mengajak anak-anak berjalan menyusuri pantai ini sambil sesekali mencelupkan kaki mereka di air. Orang tua lain terlihat senang bermain pasir, membangun istana pasir, atau menguburkan diri dalam pasir. Luasnya Pantai Natsepa juga menjadi tempat yang asyik bagi anak-anak untuk bermain sepakbola. Dengan hembusan angin dan pasir yang halus membuat anak-anak lupa waktu saat sedang bermain bola.
Laut dengan air yang tenang karena terhalang teluk, membuat pantai ini aman untuk berenang bagi para pengunjungnya. Sekadar berjalan ke arah laut sambil bermain air juga cukup aman dilakukan karena pantai ini tergolong landai sehingga tidak membahayakan. Anda dapat menyewa ban sebagai pelampung untuk mencoba berenang di pantai ini.
Jika Anda hanya ingin menikmati pemandangan atau jika Anda telah lelah bermain air atau di pantainya, Anda dapat duduk di bawah pohon untuk meluaskan pandangan Anda. Luasnya pantai yang berpasir putih lembut, birunya air laut yang tenang dan pegunungan hijau di seberang laut merupakan pemandangan yang sangat indah untuk dinikmati.
RUJAK NATSEPA
Sambil memandangi alam yang indah tersebut, jangan lewatkan untuk menikmati Rujak Natsepa yang terkenal itu. Banyak penjual rujak di pantai ini. Buah-buahan segar seperti mangga, jambu, nenas bercampur dengan gula merah dan kacang akan membuat para penikmatnya merasa segar setelah menikmati buah-buahan dari Rujak Natsepa. Rujak ini dimakan dengan tusuk sate sebagai penusuk buah dari rujak ini.
Selamat berwisata dan menikmati asam, manis, pedas rujak Pantai Natsepa di Ambon, Maluku.
Kamis, 26 April 2012
Menatap Pintu Kota Ambon yang Cantik
Salah satu tempat wisata tersebut adalah Pintu Kota yang terletak di
desa Airlouw, sekitar 30 perjalanan darat dari Kota Ambon. Untuk mencapai lokasi ini saya mesti
menyusuri jalan yang agak berkelok-kelok di sisi barat Pulau Ambon. Dengan
infrastruktur jalan raya yang relatif baik, perjalanan menjadi terasa nyaman,
apalagi sepanjang perjalanan kita pun dapat menengok pemandangan di laut lepas.
Setibanya di tempat tujuan kami segera membeli tiket untuk dapat memasuki Pintu Kota. Dinas Pariwisata kota Ambon mengenakan tarif sebesar Rp. 2.000 per orang dan Rp 10 ribu untuk parkir mobil. Usai dengan urusan pembayaran, kami pun segera memasuki areal tempat wisata tersebut. Meski hari Minggu, kawasan wisata ini ternyata tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Hanya beberapa motor terlihat diparkir di kawasan tersebut, sementara mobil yang kami tumpangi menjadi mobil pengunjung satu-satunya.
Tidak terlihat adanya pengunjung
yang mencoba berenang di tepian pantai. Dengan kontur pantai yang dipenuhi
batu-batu karang, tampaknya menyulitkan pengunjung untuk berenang. Hal ini
mungkin yang menyebabkan tempat wisata ini sepi pengunjung. Para wisatawan,
khususnya wisatawan setempat, tampaknya lebih memilih kawasan wisata lain yang
memiliki pantai yang landai seperti Natsepa dan Liang di sebelah timur pulau
Ambon.
Setibanya di tempat tujuan kami segera membeli tiket untuk dapat memasuki Pintu Kota. Dinas Pariwisata kota Ambon mengenakan tarif sebesar Rp. 2.000 per orang dan Rp 10 ribu untuk parkir mobil. Usai dengan urusan pembayaran, kami pun segera memasuki areal tempat wisata tersebut. Meski hari Minggu, kawasan wisata ini ternyata tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Hanya beberapa motor terlihat diparkir di kawasan tersebut, sementara mobil yang kami tumpangi menjadi mobil pengunjung satu-satunya.
Mendengar nama Pintu Kota, mungkin anda akan membayangkan sebuah pintu
gerbang atau gapura untuk masuk ke kota Ambon. Namun Pintu Kota sebenarnya adalah
sebuah karang raksasa yang menjorok ke laut dan memiliki lubang besar
menyerupai pintu di bawahnya. Dari lubang ini kita bisa menyaksikan panorama
Teluk Ambon yang indah.
Sementara dari atas bukit,
pengunjung dapat memuaskan pandangan ke arah laut. Kebetulan ketika saya
berkunjung laut sedang surut sehingga batu-batu karang di sekeliling Pintu Kota
seolah bermunculan dari dasar laut. Perpaduan batu karang berlubang dengan
batu-batu karang kecil di sekelilingnya serta hamparan laut luas menjadikan pemandangan
di kawasan ini menjadi lebih indah dan menyegarkan mata. Rasanya tidak bosan
menatapnya berlama-lama.
Tanpa berlama-lama saya pun segera
menuruni bukit menuju kawasan pantai. Terlihat beberapa pengunjung sedang asyik
berduaan di beberapa tempat memanfaatkan sepinya kawasan pantai. Sementara di
dekat Pintu Kota tampak sebagian pengunjung sedang berfose dan sesekali
membasahi kakinya dengan air laut yang menerjang dengan halus.
Tidak terlihat adanya pengunjung
yang mencoba berenang di tepian pantai. Dengan kontur pantai yang dipenuhi
batu-batu karang, tampaknya menyulitkan pengunjung untuk berenang. Hal ini
mungkin yang menyebabkan tempat wisata ini sepi pengunjung. Para wisatawan,
khususnya wisatawan setempat, tampaknya lebih memilih kawasan wisata lain yang
memiliki pantai yang landai seperti Natsepa dan Liang di sebelah timur pulau
Ambon.
Secara keseluruhan kawasan wisata
Pintu Kota cukup mengasyikan dan layak dikunjungi wisatawan, baik domestik
maupun manca negara. Hanya saja agar kecantikan Pintu Kota dan berbagai kawasan
wisata lainnya di Maluku dapat lebih menggoda wisatawan untuk datang perlu
pembenahan infrastuktur dan diikuti dengan pembenahaan aspek manajerial
pengelolaan tempat wisata secara lebih profesional mulai dari pengelolaan
transportasi, penginapan hingga penyebarluasan informasi. Kalau saja hal ini
bisa dilakukan, niscaya kawasan wisata bahari di Maluku bisa menyaingi Bali.
Apalagi melalui rempah-rempah, Maluku sudah sejak lama dikenal dunia.
Legenda Tanifal di Pulau Buru
Diceritakan
kembali oleh Samsuni
Tanifal
dalam bahasa Maluku berarti sebidang daratan berpasir putih halus. Menurut
cerita masyarakat setempat, Tanifal yang terletak di sekitar Pantai Tifu atau
Pulau Buru tersebut merupakan penjelmaan sepasang burung garuda raksasa. Apa
yang menyebabkan sepasang burung garuda raksasa tersebut menjelma menjadi
Tanifal? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda
Tanifal
di Palau Buru berikut ini!
* * *
Alkisah, di Pulau Buru, Maluku, tersebutlah sebuah negeri bernama Tifu. Tidak jauh dari negeri ini terdapat sebuah gunung bernama Gunung Garuda. Bila dipandang dari pantai Tifu, gunung itu tampak berwarna kemerah-merahan. Di lereng gunung itu terdapat dua buah liang batu yang letaknya agak berjauhan. Kedua liang batu tersebut masing-masing dihuni oleh seekor burung elang jantan dan seekor elang betina. Kedua burung elang tersebut merupakan burung elang terbesar di Pulau Buru. Jika burung elang raksasa ini sedang mengembangkan sayapnya di angkasa, hampir sebagian Negeri Tifu menjadi gelap akibat tertutupi bayangannya.
Burung elang rakasa tersebut termasuk burung paling ganas di antara burung pemangsa lainnya. Kukunya sangat runcing untuk menerkam dan mencengkram mangsa, serta memiliki keterampilan dan kecepatan yang tinggi dalam melumpuhkan mangsa. Burung elang rakasa itu juga memiliki bulu yang rapat dan tungkai yang bersisik tebal untuk melindungi tubuhnya dari sengatan binatang yang dimangsanya. Keistimewaan lain yang dimiliki burung ini adalah kepala dan matanya besar serta daya penglihatannya sangat tajam untuk memburu mangsa dari jarak jauh sehingga tak satu pun mangsa yang bisa lolos dari pengamatannya. Burung elang rakasa itu juga memiliki kecepatan untuk terbang melayang tinggi ke angkasa. Ia juga mempunyai sistem pernafasan yang baik dan mampu membekali dirinya dengan oksigen yang banyak sehingga dapat terbang sepanjang hari di angkasa.
* * *
Alkisah, di Pulau Buru, Maluku, tersebutlah sebuah negeri bernama Tifu. Tidak jauh dari negeri ini terdapat sebuah gunung bernama Gunung Garuda. Bila dipandang dari pantai Tifu, gunung itu tampak berwarna kemerah-merahan. Di lereng gunung itu terdapat dua buah liang batu yang letaknya agak berjauhan. Kedua liang batu tersebut masing-masing dihuni oleh seekor burung elang jantan dan seekor elang betina. Kedua burung elang tersebut merupakan burung elang terbesar di Pulau Buru. Jika burung elang raksasa ini sedang mengembangkan sayapnya di angkasa, hampir sebagian Negeri Tifu menjadi gelap akibat tertutupi bayangannya.
Burung elang rakasa tersebut termasuk burung paling ganas di antara burung pemangsa lainnya. Kukunya sangat runcing untuk menerkam dan mencengkram mangsa, serta memiliki keterampilan dan kecepatan yang tinggi dalam melumpuhkan mangsa. Burung elang rakasa itu juga memiliki bulu yang rapat dan tungkai yang bersisik tebal untuk melindungi tubuhnya dari sengatan binatang yang dimangsanya. Keistimewaan lain yang dimiliki burung ini adalah kepala dan matanya besar serta daya penglihatannya sangat tajam untuk memburu mangsa dari jarak jauh sehingga tak satu pun mangsa yang bisa lolos dari pengamatannya. Burung elang rakasa itu juga memiliki kecepatan untuk terbang melayang tinggi ke angkasa. Ia juga mempunyai sistem pernafasan yang baik dan mampu membekali dirinya dengan oksigen yang banyak sehingga dapat terbang sepanjang hari di angkasa.
Sepasang
burung elang tersebut biasanya terbang mencari mangsa pada siang hari,
sedangkan pada malam hari mereka beristirahat di sarangnya masing-masing Burung
elang betina lebih giat mencari mangsa dibandingkan dengan burung elang jantan.
Jenis binatang yang biasa menjadi sasarannya adalah hewan mamalia kecil seperti
tikus, tupai, dan ayam. Terkadang pula ikan dan udang menjadi mangsanya. Jika
mereka tidak mendapat mangsa binatang atau hewan, manusia pun bisa menjadi
sasarannya. Meski demikian, mereka tidak mau memangsa manusia yang berada di
sekitar tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka selalu terbang jauh untuk
mencari mangsa.
Kedua
burung elang rakasa tersebut, terutama si elang betina, sering mengincar
penumpang kapal yang melintas di perairan sekitar Pulau Buru. Jika melihat ada
kapal yang melintas, elang betina dengan cepat terbang menuju ke kapal tersebut
untuk menangkap para penumpangnya dan membawa mereka ke sarangnya. Sebagian
mangsa tersebut langsung disantap dan sebagian yang lain disimpan selama
beberapa hari sambil menunggu kedatangan kapal berikutnya. Manusia yang sering
menjadi korbannya adalah pelaut-pelaut Cina yang melintas di daerah itu.
Berita
tentang keganasan burung elang itu pun tersebar ke seluruh penjuru Negeri Cina.
Sekelompok nelayan yang mendengar berita tersebut bermaksud untuk menumpas
keganasan kedua burung elang raksasa tersebut. Mereka akan menghadapi kedua
elang itu dengan besi runcing atau tombak besi sepanjang tiga meter. Saat
berada di perairan Tifu, mereka akan memanaskan ujung besi runcing itu hingga
merah membara sebelum menusukkannya ke tubuh burung elang tersebut.
Setelah semuanya siap, berangkatlah rombongan nelayan Cina itu ke perairan Tifu dengan menggunakan kapal. Setelah berhari-hari berlayar, akhirnya mereka pun tiba di perairan Buru Selatan. Nahkoda kapal segera memerintahkan seluruh awak kapal yang jumlahnya puluhan lebih untuk bersiaga.
Setelah semuanya siap, berangkatlah rombongan nelayan Cina itu ke perairan Tifu dengan menggunakan kapal. Setelah berhari-hari berlayar, akhirnya mereka pun tiba di perairan Buru Selatan. Nahkoda kapal segera memerintahkan seluruh awak kapal yang jumlahnya puluhan lebih untuk bersiaga.
“Pasukan,
siapkan senjata kalian!” seru sang nahkoda kapal, “Sebentar lagi burung elang
raksasa itu datang untuk menangkap kita.”
“Baik, Tuan,” jawab seluruh awak kapal serentak.
Para awak kapal segera mengambil senjata masing-masing lalu berkumpul di geladak kapal sambil memanaskan ujung tombak besi mereka. Tak berapa lama kemudian, ujung tombak besi itu berubah menjadi merah membara dan siap untuk digunakan. Bersamaan dengan itu, kedua burung elang rakasa itu pun datang untuk memangsa mereka. Namun, sebelum keduanya mencengkramkan cakar-cakarnya yang tajam ke tubuh mereka, para awak kapal segera menancapkan tombak besinya ke tubuh kedua burung elang tersebut. Tak ayal, sepasang burung elang raksasa itu langsung mengerang kesakitan.
“Koaaak… Koaaak… Koaaak…!!!”
Meskipun terluka parah dengan tombak besi menancap hampir di seluruh tubuhnya, kedua burung elang raksasa itu berusaha terbang ke sarangnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Namun belum sampai di sarangnya, mereka telah kehabisan darah hingga akhirnya jatuh dan tewas di pantai Tifa. Setelah memastikan keduanya telah mati, rombongan pelaut Cina tersebut segera meninggalkan itu dan kembali ke negerinya.
Sementara itu, bangkai kedua burung elang raksasa itu dibiarkan tergeletak di pantai Tifu. Lama-kelamaan bangkai itu kemudian berubah menjadi Tanifal, yaitu sebidang daratan berpasir putih dan halus. Tanifal itu dikelilingi oleh air laut dan hanya tampak ketika air laut sedang surut.
“Baik, Tuan,” jawab seluruh awak kapal serentak.
Para awak kapal segera mengambil senjata masing-masing lalu berkumpul di geladak kapal sambil memanaskan ujung tombak besi mereka. Tak berapa lama kemudian, ujung tombak besi itu berubah menjadi merah membara dan siap untuk digunakan. Bersamaan dengan itu, kedua burung elang rakasa itu pun datang untuk memangsa mereka. Namun, sebelum keduanya mencengkramkan cakar-cakarnya yang tajam ke tubuh mereka, para awak kapal segera menancapkan tombak besinya ke tubuh kedua burung elang tersebut. Tak ayal, sepasang burung elang raksasa itu langsung mengerang kesakitan.
“Koaaak… Koaaak… Koaaak…!!!”
Meskipun terluka parah dengan tombak besi menancap hampir di seluruh tubuhnya, kedua burung elang raksasa itu berusaha terbang ke sarangnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Namun belum sampai di sarangnya, mereka telah kehabisan darah hingga akhirnya jatuh dan tewas di pantai Tifa. Setelah memastikan keduanya telah mati, rombongan pelaut Cina tersebut segera meninggalkan itu dan kembali ke negerinya.
Sementara itu, bangkai kedua burung elang raksasa itu dibiarkan tergeletak di pantai Tifu. Lama-kelamaan bangkai itu kemudian berubah menjadi Tanifal, yaitu sebidang daratan berpasir putih dan halus. Tanifal itu dikelilingi oleh air laut dan hanya tampak ketika air laut sedang surut.
Menurut
cerita masyarakat setempat, kedua bola dari salah satu dari burung elang itu
terlepas dan kemudian berubah menjadi dua buah batu besar. Lama-kelamaan, kedua
batu besar yang ditumbuhi rerumputan itu membentuk dua pulau kecil yang indah.
Hingga saat ini masyarakat setempat juga mempercayai bahwa di daerah tersebut masih terdapat burung goheba atau burung elang yang dianggap sebagai keturunan dari kedua burung elang raksasa itu. Bahkan, burung goheba itu menjadi salah satu tanda bagi para nelayan untuk mengetahui tempat berkumpulnya kawanan ikan di suatu tempat. Jika goheba itu beterbangan dan mondar-mandir mengelilingi Negeri Tifu atau Pulau Buru sambil berbunyi “Koaaak… Koaaak…” maka hal itu merupakan pertanda bahwa di tempat itu terdapat kawanan ikan yang sedang berkumpul.
--------
Hingga saat ini masyarakat setempat juga mempercayai bahwa di daerah tersebut masih terdapat burung goheba atau burung elang yang dianggap sebagai keturunan dari kedua burung elang raksasa itu. Bahkan, burung goheba itu menjadi salah satu tanda bagi para nelayan untuk mengetahui tempat berkumpulnya kawanan ikan di suatu tempat. Jika goheba itu beterbangan dan mondar-mandir mengelilingi Negeri Tifu atau Pulau Buru sambil berbunyi “Koaaak… Koaaak…” maka hal itu merupakan pertanda bahwa di tempat itu terdapat kawanan ikan yang sedang berkumpul.
--------
Demikian cerita Legenda Tanifal di Pulau Buru dari daerah Provinsi Maluku.
Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita legenda di atas adalah bahwa dengan
usaha dan kerja sama yang baik, maka segala rintangan dan gangguan dapat
diatasi dengan mudah, sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok nelayan dari
Negeri Cina. Berkat usaha dan kerja sama yang baik, mereka berhasil menumpas
keganasan kedua burung elang raksasa tersebut sehingga para nelayan dapat
lalu-lalang di perairan Tifu tanpa dihantui oleh perasaan takut.
Rabu, 18 April 2012
Mengapa Undang-Undang Penanggulangan Bencana ?
Mengapa Undang-Undang Penanggulangan Bencana ?
Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.
Bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.
Pertama,
Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan bahwa tujuan pembentukan Negara
Republik Indonesia adalah, antara lain, melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia. Sementara penanganan bencana masih belum
optimal dan terkesan lambat karena bersifat parsial, sektoral dan
kurang terpadu; Kedua, adanya momentum dari peristiwa Tsunami 26 Desember 2004 di Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam; Ketiga, melemahnya Kemampuan Penanganan Bencana; Keempat,
Indonesia adalah salah satu negara yang sangat rawan berbagai jenis
bencana baik karena gejala alam, kebijakan yang tidak memihak rakyat dan
kurang peduli lingkungan, maupun konflik sosial, Kelima, Perubahan Paradigma :
1. Dari
respon darurat ke manajemen resiko: Perubahan dari PENANGGULANGAN
bencana yang terfokus pada kedaruratan, menjadi PENANGANAN bencana yang
melingkupi keseluruhan daur managemen risiko bencana, dari pencegahan,
penjinakan, kesiapan, penanggulangan kedaruratan, sampai pemulihan dan
rehabilitasi, untuk mengurangi secara signifikan dampak kejadian
bencana.
2. Dari
perlindungan sebagai kemurahan hati Pemerintah ke perlindungan sebagai
hak azasi rakyat. Tadinya, perlindungan diberikan sebagai bukti
kemurahan penguasa yang sebagian dipercayakan kepada dan dilaksanakan
melalui pemerintah daerah. Dalam paradigma baru, sesuai dengan aturan
internasional dan norma konstitusi Indonesia, keselamatand an
perlindungan sejatinya adalah hak azasi rakyat yang harus dipenuhi
negara.
3. Dari
penanganan bencana sebagai tanggungjawab Pemerintah ke penanganan
bencana sebagai urusan bersama masyarakat. Paradigma ini memperluas
penanganan bencana ke ruang publik dimana semua aspek mulai dari
kebijakan, kelembagaan, koordinasi dan mekanisme diubah sedemikian rupa
sehingga menggalakkan peranserta masyarakat, LSM, dunia usaha dan
masyarakat internasional.
Dan Keenam, adalah manfaat dari undang-undang itu sendiri:
1. Memberikan kewenangan hukum kepada Pemerintah untuk melaksanakan amanat konstitusi dalam melindungi negara dan warga negaranya;
2. Memberikan
efek nasional, sehingga memastikan bahwa semua tataran struktur
penanganan bencana mendapatkan kewenangan yang baku dan merata;
3. Membagi tanggungjawab formal dan memastikan pelaksanaannya secara benar;
4. Menyediakan keruntutan kerangka berpikir secara formal;
5. Memberikan
sanksi terhadap kesengajaan atau kelalaian yang meningkatkan risiko
atau memperburuk akibat bencana terhadap masyarakat; dan
6. Memberikan
jaminan atas hak-hak yang melekat pada warga negaranya, baik dalam arti
perlindungan sebelum terjadi bencana maupun pemulihan hak-hak mereka
yang mungkin hilang, lepas atau terkurangi sebagai akibat terkena
bencana.
Manajemen Bencana ditinjau dari Perspektif Bantuan Sosial
Manajemen Bencana ditinjau dari Perspektif Bantuan Sosial
Disaster
Management atau manajemen bencana atau penanggulangan bencana yang
menjadi konsentrasi Departemen Sosial RI harus sesuai dengan atau
mengacu pada visi dan misi Departemen itu sendiri. Dalam hal ini
penanggulangan bencana harus terkait dengan perubahan sikap dan tingkah
laku sasaran pembangunan kesejahteraan sosial yaitu Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial menuju keberfungsian sosial baik individu, kelompok
maupun komunitas dan lingkungannya khususnya korban bencana.
Lebih
lanjut tentang hal ini Drs. ANDI HANINDITO-mantan Kasubdit. Tanggap
Darurat – sekarang Direktur Bantuan Sosial Korban Bencana Sosial DEPSOS
RI menguraikan secara mendalam dan ilmiah dengan judul “MANAJEMEN
BENCANA DITINJAU DARI PERSPEKTIF BANTUAN SOSIAL” yang disampaikan pada
The 5th Asia Crisis Management Conference Di Jakarta tanggal 24 Oktober
2007
A. Pengertian Manajemen Bencana
Manajemen
bencana adalah suatu proses dinamis, berlanjut dan terpadu untuk
meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi
dan analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan,
peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi
bencana.
B. Tujuan Manajemen Bencana
Secara umum, manajemen bencana ditujukan untuk :
1. Mencegah dan membatasi jumlah korban manusia serta kerusakan harta benda dan lingkungan hidup
2. Menghilangkan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan korban
3. Mengembalikan
korban bencana dari daerah penampungan/ pengungsian ke daerah asal bila
memungkinkan atau merelokasi ke daerah baru yang layak huni dan aman.
4. Mengembalikan
fungsi fasilitas umum utama, seperti komunikasi/ transportasi, air
minum, listrik, dan telepon, termasuk mengembalikan kehidupan ekonomi
dan sosial daerah yang terkena bencana.
5. Mengurangi kerusakan dan kerugian lebih lanjut.
6. Meletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam konteks pembangunan
C. Prinsip Utama Manajemen Bencana
1. Tidak ada dua bencana yang sama (there are no two disasters alike), walaupun jenis bencana dan lokasinya sama.
2. Efektivitas
dan efisiensi manajemen bencana ditentukan oleh penguasaan akan
karakteristik setiap bencana serta kejelasan aspek-aspek kunci sebagai
berikut :
a. Sasaran dan bentuk bahaya yang akan terjadi
b. Sumber-sumber lokal yang tersedia
c. Bentuk-bentuk organisasi manajemen bencana yang dibutuhkan.
d. Perencanaan pemenuhan kebutuhan bila bencana terjadi.
e. Tindakan
yang harus dilakukan oleh sektor serta titik masuknya dalam siklus
manajemen bencana (pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini,
tanggap darurat, restorasi, rehabilitasi dan rekonstruksi).
f. Pendidikan, pelatihan, dan pengembangan personel manajemen bencana secara berlanjut.
g. Kesejahteraan personel-personel bencana.
3. Uang tunai merupakan bentuk bantuan manajemen bencana yang paling baik.
D. Mekanisme Manajemen Bencana
Mekanisme manajemen bencana terdiri dari :
1. Mekanisme
internal atau informal, yaitu unsur-unsur masyarakat di lokasi bencana
yang secara umum melaksanakan fungsi pertama dan utama dalam manajemen
bencana dan kerapkali disebut mekanisme manajemen bencana alamiah,
terdiri dari keluarga, organisasi sosial informal (pengajian, pelayanan
kematian, kegiatan kegotong royongan, arisan dan sebagainya) serta
masyarakat lokal.
2. Mekanisme
eksternal atau formal, yaitu organisasi yang sengaja dibentuk untuk
tujuan manajemen bencana, contoh untuk Indonesia adalah BAKORNAS PB,
SATKORLAK PB dan SATLAK PB.
E. Bantuan Sosial adalah seluruh dukungan untuk :
1. Pemenuhan kebutuhan fisik, mental dan sosial korban bencana seoptimal mungkin sesuai kondisi aktual setempat.
2. Peningkatan kemampuan, motivasi dan peranan korban bencana dalam berbagai kegiatan restorasi, rehabilitasi dan rekonstruksi.
3. Pemecahan masalah-masalah psikososial korban bencana serta memulihkan dan meningkatkan peranan-peranan sosialnya.
4. Pencegahan dan mitigasi berbagai kerugian yang dialami korban bencana dalam kejadian bencana di masa datang.
5. Peningkatan
dukungan semua unsur masyarakat secara berlanjut dalam penanganan
darurat, restorasi, rehabilitasi dan rekonstruksi.
F. Bentuk dan Jenis Bantuan Sosial
1. Bentuk Bantuan Sosial
a. Fisik
b. Non Fisik
2. Jenis Bantuan Sosial
a. Siap Pakai
b. Olahan
c. Tambahan/ Pelengkap
G. Penerapan Manajemen Bencana Bidang Bantuan Sosial
1. Bidang Bantuan Sosial merupakan salah satu aspek strategis dalam penanggulangan bencana.
2. Pelaksanaan
bidang bantuan sosial yang menjadi bagian dari penanggulangan bencana
tidak bisa dilakukan secara parsial dan harus utuh dalam satu kesatuan
yang saling terkait karena pendekatan-pendekatan yang digunakan bidang
bantuan sosial dalam penanggulaangan bencana berpedoman pada manajemen
kebencanaan yang terbagi dalam siklus penanggulangan bencana yaitu
sebelum, saat dan sesudah.
3. Pedoman
untuk melaksanakan bidang bantuan sosial dalam penanggulangan bencana
adalah bagian dari kebijakan sosial (Social Policy) yang di dalamnya
ditentukan prinsip-prinsip umum untuk menentukan pilihan dan membuat
keputusan pada kondisi yang tidak/ belum diketahui atau kondisi yang
mungkin akan terjadi di masa mendatang
4. Implementasi
Bidang Bantuan Sosial dalam penanggulangan bencana dirumuskan dalam
bentuk program penanggulangan bencana bidang bantuan sosial.
5. Program penanggulangan bencana bidang bantuan sosial meliputi :
a. Bantuan Sosial, yaitu berbentuk perlindungan dan pertolongan dengan fokus untuk dampak bencana temporer (Temporary Impact)
a. Rehabilitasi Sosial, yaitu berbentuk fisik dan non fisik dengan fokus untuk dampak bencana permanen (Permanent Impact)
b. Pemberdayaan
Sosial, yaitu berbentuk penguatan dan pengembangan dengan fokus untuk
dampak bencana berkelanjutan (Sustainable Impact)
6. Hasil
yang diharapkan dari seluruh proses kegiatan penanggulangan bencana
bidang bantuan sosial adalah terpenuhinya kebutuhan korban bencana agar
dapat hidup secara wajar.
7. Agar
proses kegiatan penanggulangan bencana bidang bantuan sosial berjalan
sistemik dan holistik maka harus menempatkan sasaran dan pengguna
sebagai subyek sekaligus pelaku aktif yaitu masyarakat itu sendiri.
Untuk itu masyarakat perlu ditingkatkan kapasitas kemampuannya agar
lebih mampu mengelola dirinya dan potensi-potensi yang dianggap dapat
mendukung kebutuhannya sendiri secara proporsional. Dalam hal ini peran
pemerintah hanya sebagai regulator dan fasilitator
8. Peran
dan tanggung jawab masyarakat yang dimainkan dalam sistem
penanggulangan bencana harus tertuang dalam kebijakan pemerintah untuk
penanggulangan bencana melalui Program CBDM (Community Based Disaster
Management).
9. Beberapa Alasan tentang Pentingnya Program CBDM
a. Cakupan wilayah yang tersebar dan luas
b. Keterbatasan kemampuan Pemerintah
c. Potensi dan sumber-sumber yang dimiliki masyarakat sangat besar tapi belum dikelola secara profesional
d. Efektivitas
pelaksanaan penanggulangan bencana dengan sistem pemerintahan
desentralisasi adalah untuk memperkuat dan memperluas potensi Front
Liner sebagai ujung tombak
e. Efisiensi
pengerahan sumber-sumber bantuan, akses sistem jaringan komunikasi dan
informasi serta jalur koordinasi dapat dilakukan menggunakan sistem
komando terutama pada saat tanggap darurat / emergency dengan
memberdayakan, mendelegasikan serta menempatkan peran orang-orang kunci
dari unsur masyarakat yang terlatih untuk mengambil keputusan secara
cepat dan tidak terganggu mekanisme birokrasi.
10.Manfaat Program CBDM
a. Memperkuat ikatan psikologis yang secara tidak langsung akan memperkokoh tingkat emosional antar individu
b. Memperkecil tingkat ketergantungan kepada Pemerintah
c. Meningkatkan budaya gotong royong dan kebersamaan
d. Mempercepat proses tindakan/ reaksi terutama pada saat bencana terjadi
e. Mempermudah menyamakan persepsi tentang resiko/ bahaya bencana
f. Mengaktifkan potensi dan sumber-sumber lokal
g. Memperkuat persatuan dan solidaritas nasional
11.Strategi Program CBDM
a. Membangun sentra-sentra komando berbasis komunitas
b. Menetapkan orang-orang kunci
c. Melakukan
kegiatan-kegiatan bermuatan materi untuk meningkatkan kapasitas
masyarakat secara periodik melalui pelatihan, penyuluhan, gladi dan
simulasi
H. Penutup
· Indikator
keberhasilan penanggulangan bencana bidang bantuan sosial sangat
ditentukan oleh peran masyarakat itu sendiri, sebab seluruh proses
kegiatannya di setiap wilayah atau daerah tidak akan sama karena sangat
dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan budaya setempat.
· Seluruh
ketentuan/ pedoman dan aturan yang terkait dengan penanggulangan
bencana bidang bantuan sosial harus aplikatif, fleksibel dan dinamis
Pekerjaan
utama yang paling berat oleh Pemerintah pada saat ini adalah merubah
“Main Set” Masyarakat dari ketergantungan menjadi mandiri dalam
penanggulangan bencana sebelum bantuan dari luar datang (to help them
self)
Langganan:
Postingan (Atom)









